oleh: Alloysius Hanung Rumekso, Psi, SpN Edu
Bagaimanapun hebatnya seorang therapist atau sebuah tempat therapy, guru terbaik adalah orang tuanya. Orang tua (tentunya tidak harus ibu) akan melakukan apapun demi kebaikan anaknya, tanpa pamrih, dan tidak mengenal kata “percuma”.
Apalagi, dari waktu yang dilewatkan bersama dalam quality time, hubungan kedekatan antara orang tua dan anak akan otomatis terbentuk. Kuantitas bonding menentukan kualitas. Tidak ada kualitas terbentuk tanpa kuantitas yang disiapkan.
Demikian juga meskipun semakin intensif semakin baik, intervensi ini tidak harus dalam bentuk penanganan yang terus menerus setiap hari (karena banyak orang tua harus bekerja). Setidaknya ada usaha dari orang tua dan keluarga untuk terus menerus melakukan pendampingan pada anaknya sehingga mereka terlibat secara langsung dalam proses pengajaran anak. Keterlibatan langsung ini SANGAT berpengaruh pada perkembangan anak secara mental dan emosional.
Jadi hal apa yang harus diperhatikan dalam membantu menangani anak di rumah ? Apalagi kondisi saat liburan seperti saat ini....
Menurut Hodgdon, 1999, fokus kita adalah pada :
- Meningkatkan pemahaman dan mengajarkan ketrampilan baru. Jadi, tujuan utama penanganan adalah pada pemahaman BUKAN bicara atau hanya pengungkapan secara verbal saja.
- Orang tua HARUS dibantu mengerti bahwa sebagian populasi Autism memang tidak bisa verbal, tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi pemahaman mereka. Seringkali orang tua kecil hati dan putus asa karena anaknya tidak bisa verbal (yang berhubungan dengan daerah gangguan perkembangan wicara), padahal anak sudah sangat membaik perkembangannnya. Orang tua perlu melihat setiap sisi positif perkembangan anak, agar orang tua bisa menghargai detiap perubahan yang terjadi sehingga bersikap lebih positif pula. Kesadaran bahwa sebagian populasi autism memang non-verbal menekankan, agar orang tua dapat beralih kepada alat bantu komunikasi yang bisa dipelajari. Tujuan kita adalah memberi anak stimulasi dan kemudahan untuk mengekspresikan diri melalui berbagai cara, sehingga anak tidak frustrasi, dan bisa berperilaku lebih positif.
- Salah satu cara yang dapat dilakukan orang tua di rumah dengan segera adalah dengan PENDAMPINGAN INTENSIF. Pendampingan yang dimaksud disini bukanlah menemani, tetapi memastikan adanya interaksi aktif antara anak dengan pengasuh/orang tua yang ada di sekitarnya. Tujuan pendampingan intensif bukan saja untuk membina kontak batin terus menerus dengannya (bukan sekedar kontak mata), tetapi juga untuk meningkatkan PEMAHAMAN anak yang umumnya cenderung terbatas termasuk kontak dengan lingkungan sosialnya.
- Pendampingan ini dilaksanakan sejak anak mulai membuka mata, hingga saatnya ia tertidur kembali di malam hari. Saat pendampingan intensif, tugas siapapun yang menemani anak untuk memberikan informasi dan pengalaman dalam berbagai bentuk kepada anak. Penting sekali untuk TIDAK membiarkan anak sendirian tanpa melakukan apa-apa. Berikan pengalaman sebanyak mungkin, disertai pengarahan. Anak harus tahu, bahwa dunia ini sarat dengan makna dan simbol yang bisa dikomunikasikan. Dengan mengikuti kemana ia pergi, memberi tahu apa yang ia pegang atau lihat, menjelaskan berbagai kejadian yang ia alami, kita memberi makna pada hidupnya. Lebih penting lagi, berikan kesempatan pada anak untuk melakukan berbagai hal. Mungkin pada awalnya dibantu tetapi sambil mengajarkan cara mengerjakannya sendiri. Jangan layani ia setiap saat, karena anak akan cenderung belajar untuk tidak berdaya bila terus menerus dibantu.
Holmes (1997) menggunakan istilah "learned helplessness" (atau ketidakberdayaan yang dipelajari) untuk melukiskan situasi dimana penyandang autism cenderung belajar menjadi 'tidak berdaya' sambil tetap mendapatkan apa yang mereka inginkan. (Dalam hal ini kita mengenal makna 'Manipulate Behavior' atau perilaku manipulasi). Keadaan 'tidak berdaya' juga merupakan kondisi yang menyenangkan bagi anak autism karena ia lalu punya kesempatan untuk kembali 'masuk' ke dalam dunianya -- terbebas dari rasa frustrasi, cemas, dan tertekan saat harus susah payah melalui proses belajar hal baru.
Sebaliknya, keadaan 'tidak berdaya' ini merampas seorang penyandang dari hak-haknya untuk hidup mandiri, untuk menentukan sendiri apa yang ingin ia lakukan dan bagaimana melakukannya.
Keadaan tersebut juga seolah mengizinkan mereka untuk berperilaku tidak semestinya, karena mereka tidak diajarkan untuk bertanggung jawab atas perilakunya sendiri. Singkatnya, ‘learned helplessness’ menghambat seorang anak autistik mendapatkan hak akan kehidupan yang layak di kemudian hari.
Pertanyaan orang tua berikutnya adalah:
apa yang akan diajarkan?
Penting sekali untuk berusaha meningkatkan pemahaman anak dalam berbagai bidang: kemampuan berpikir, kemandirian mengurus diri sendiri, ketrampilan sosial, agar setidaknya mendekati kemampuan anak lain seusianya. Untuk itu harus ditetapkan target ketrampilan.
Lalu bagaimana menetapkannya?
Baker & Brightman (1997) dalam bukunya Steps to Independence menganjurkan kita:
- Melakukan observasi cara anak melewatkan hari-harinya,
- Mencatat berbagai hal yang sekarang kita lakukan untuknya, dan kita pikir sudah dapat mulai ia pelajari sendiri (misal: mengikat tali sepatu, membuka baju, mencuci rambut, membereskan mainan, makan, toileting dsb). Mungkin juga bisa ditambahkan ketrampilan baru (bermain dengan aturan main) atau tugas lain yang kita pikir sudah dapat dipelajari olehnya.
- Menyadari bahwa dari sekian banyak hal yang kita pikir sudah dapat ia pelajari, ada hal yang harus sudah ia kuasai sebelum ia dapat belajar hal tertentu lainnya (prasyarat : setelah melewati mastery criteria ). Seperti: duduk sebelum berdiri, makan dengan garpu sebelum memotong dengan pisau dsb. Jadi, pertimbangkan apa yang sudah dapat ia lakukan, dan apa yang dapat diajarkan sesudah itu. Lakukan secara bertahap dalam DTT (Discrete Trial Training).
- Menetapkan prioritas. Pilih, hal apa yang paling berarti bagi sekelilingnya bila dapat dikerjakan anak sendiri. Misal: anak tidak bisa makan sendiri berakibat tidak mungkin pergi makan bersama-sama, anak tidak bisa pakai baju sendiri berarti ibu tidak bisa meluangkan waktu bersama anak lain di pagi hari karena sibuk membantu anak berpakaian.
- Melakukan pergerakan dalam langkah-langkah yang kecil, untuk mengupayakan 75%- 80% kemungkinan keberhasilan pada anak. Minta orang tua melakukan analisa tugas (task analysis) dimana kita membagi sebuah tugas dalam langkah kecil untuk diajarkan secara terpisah dan tersendiri. Misalnya: untuk tugas mandi, langkah-langkah yang tercakup adalah masuk kamar mandi, tutup pintu, buka pakaian, siram badan, pakai sabun, siram badan, keringkan badan dengan handuk, berpakaian, barulah keluar kamar mandi.
- Bila salah satu langkah belum dikuasainya, harus diajarkan tersendiri (MT/Mass Trial). Selain ketrampilan/pengetahuan, penyandang ASD penting sekali untuk diajarkan KEPATUHAN. Mereka yang cenderung “semau-nya sendiri”, cenderung mengalami masalah di lingkungan masyarakat, bila tidak sejak dini dibantu untuk patuh. Tanamkan pengertian bahwa “hidup ini sarat dengan aturan, dan kamu harus belajar untuk mematuhi sebagian besar aturan tersebut”. Bagaimanapun pandainya seseorang, bila ia tidak dapat mengikuti aturan yang berlaku.. ia akan dikatakan “tidak tahu aturan” dan seringkali ditolak oleh lingkungannya. Karena itu, orang tua harus mengingatkan anak untuk mengajarkan aturan-aturan sederhana sedini mungkin. Misalnya: tidak boleh lempar-lempar barang, tidak boleh makan sambil berlari-lari, harus mau membereskan barang dsb. Konsistensi disiplin orang tua adalah kunci utama adanya kepatuhan pada anak. Yang jelas, program yang dibicarakan disini adalah perluasan dari apa yang diajarkan orang tua saat penanganan anak di rumah. Perluasan disini maksudnya adalah memasukkan berbagai konsep.
- Mencatat berbagai hal yang sekarang ANDA lakukan untuknya, dan Anda pikir sudah dapat mulai ia pelajari sendiri (misal: mengikat tali sepatu, membuka baju, mencuci rambut, membereskan mainan, makan, toileting dsb).
Selamat mencoba. Semoga bermanfaat....

Tidak ada komentar:
Write komentar