Cari Blog Ini

Gambar tema oleh MichaelJay. Diberdayakan oleh Blogger.

Featured post

Mengenal Asperger's Syndome

Oleh: Alloysius Hanung Rumekso, Psi. SpN Edu Alif (7 tahun)-bukan nama sebenarnya, tampak sehat dan cerdas masuk ke ruang praktek s...

Jumat, 06 September 2019

Mengenal Asperger's Syndome

Oleh: Alloysius Hanung Rumekso, Psi. SpN Edu


Image result for boy silhouette photo stock free

Alif (7 tahun)-bukan nama sebenarnya, tampak sehat dan cerdas masuk ke ruang praktek saya. Sepintas tidak terlihat berbeda dengan anak kebanyakan. Ia dapat menjawab pertanyaan dengan santun, ”Kabar saya baik, bagaimana dengan kabar mu ?”

Ketika saya bertanya tentang sekolah, tiba-tiba Alif bercerita tentang Dinosaurus yang dikabarkannya telah punah, lengkap dengan cerita bagaimana terjadinya proses kepunahan disertai dengan penemuan terbesar tentang tulang belulang dinosaurus yang belakangan ini ditemukan di florida dan dengan sangat fasih menyebutkan nama latin dan jaman masa kehidupan dinosaurus tersebut dimasa lampau serta mengajak saya berdiskusi tentang kehidupan Dinosaurus, beberapa binatang purba hingga kepuasan dan fosil-fosil yang ditemukan.

Topik pembicaraan tidak juga beralih meskipun saya berusaha mengalihkan pembicaraan dengan pertanyaan ringan seputar teman sekolahnya dan aktifitasnya di sekolah.
Orang tua Alif bercerita bahwa putera mereka mengenal huruf sejak usia 18 bulan dan dapat membaca dengan belajar sendiri sebelum berusia 3,5 tahun. Sejak bisa membaca Alif lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca sains ketimbang bermain bola atau permainan sejenisnya.
Jeniuskah Alif ? Pastinya ya, lalu apa yang salah dengan Alif ?

Menurut orang tua dan gurunya di sekolah ternyata teman-teman Alif tidak suka bermain dengannya karena menganggap Alif aneh. Alih-alih membicarakan film Superman atau tokoh kesukaan anak-anak pada umumnya dengan peers, Alif lebih suka dan tertarik bercerita dan berdiskusi bagaimana habitat dan rantai makanan yang terjadi hutan hujan tropis, atau kehidupan liar di Afrika dan berbagai jenis binatang yang ia minati.

Alif pun sering diejek karena tutur katanya sangat sopan seperti di buku bahasa dengan intonasi yang datar dengan gaya bahasa seperti orang dewasa dan formal. Alif juga kerap balik menirukan pertanyaan yang ditujukan kepadanya saat ia tidak tertarik dengan tematik pembicaraan.

Di mata guru, Alif anak yang sangat cerdas, ”berbeda” dengan anak lain, lebih senang menyendiri dan sibuk dengan buku dan kadang tidak perduli dengan orang lain atau jika diajak bicara. Apa masalah yang terjadi pada Alif ? Autistic ? anak super jenius?…… ternyata bukan, Alif menunjukkan gejala Asperger's Syndrome (sindrom Asperger/SA).

Apa itu Asperger's Syndrome ? Apakah termasuk bagian dari Spektrum Autisme?


Asperger's syndrome (SA) termasuk gangguan perkembangan yang mempengaruhi kemampuan seorang anak untuk bersosialisasi dan berkomunikasi. Anak laki-laki 4:1 lebih banyak dibandingkan dengan anak perempuan.

Adapun tanda dan gejala anak SA antara lain :

        1. Problem sosialisasi :
  •  Anak SA sebenarnya ingin berteman tetapi sering ditolak atau diejek oleh teman-temannya.
  • Kurang atau tidak mengerti bagaimana perasaan orang lain. Dalam hal ini mempunyai 'theory of mind' yang rendah.
  • Tidak mengerti humor dan norma-norma sosial yang berlaku.
  • Menunjukkan perilaku yang khas, tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku.
  • Infleksible atau kurang fleksibel karena lebih suka pada rutinitas sehingga sulit beradaptasi.
  • Rigid dan tampak formal dalam merespon stimulasi sosial.
        2. Problem komunikasi :
  • Dalam percakapan, anak SA akan lebih banyak bicara tentang hal yang diminatinya tanpa memperdulikan apakah lawan bicaranya tertarik atau mengerti apa yang dibicarakan.
  • Tidak memahami atau kesulitan dalam mengerti bahasa komunikasi non verbal seperti ekspresi dan bahasa tubuh orang lain.
  • Kurangnya kontak mata.
  • Terobsesi pada hal-hal yang sangat spesifik seperti statistik, jadwal kereta, cuaca, binatang, dll.
  • Berbicara dengan suara yang monoton, datar, formal dengan kecepatan yang lambat atau cepat. Atau kadang rigid pada infleksi dan nada tertentu.
  • Kurang mampu berkomunikasi dua arah.
  • Kerap menginterupsi atau menyela pembicaraan dan sulit mengikuti tema pembicaraan orang lain.
        3. Problem motorik dan sensorik:
  • Koordinasi motorik halus yang kurang atau clumsy (canggung).
  • Kurang dapat menjaga keseimbangan dan meniru gerakan yang bersifat cepat, halus dan ritmik serta tulisan tangan yang tidak rapi.
  • Sensitif terhadap suara, rabaan, rasa, cahaya, bau, nyeri dan suhu serta tekstur makanan.


Penyebab SA belum banyak diketahui, diduga karena faktor genetik dan kelainan struktural daerah tertentu di otak.

Sebelumnya menurut DSM IV (sebelum tahun 2013) SA dimasukkan kedalam klasifikasi gangguan perkembangan yang kompleks dalam Pervasive Development Disorder, masuk dalam Spectrum Autism sebagai bagian dari High Functioning Autism (Autistik yang mild atau ringan). Namun sejak dikeluarkannya DSM V thn 2013, gangguan perkembangan ini di masukkan klasifikasi tersendiri karena Karakteristik gejalanya yang khas.

Beberapa ahli berpendapat bahwa SA berbeda dengan autistik maupun ASD. Mereka sepakat bahwa perbedaan utama antara SA dengan autistik ataupun ASD adalah anak SA memperlihatkan perkembangan bahasa/bicara serta kecerdasan yang normal sesuai usianya, bahkan kemampuan ini kadang melebihi anak seusianya. Sehingga anak SA tidak datang dengan keluhan terlambat bicara bahkan dengan kecerdasan bahasa yang tinggi tetapi dengan keluhan masalah di sekolah karena kurangnya sosialisasi atau interaksi sosial dalam menjalin hubungan kedekatan yang dalam dan intens dengan teman sebaya dan dianggap aneh oleh lingkungannya. Masalah bahasa dan sosial Interaksi lebih pada sisi kuantitas dan kualitas dalam merespon setiap situasi atau stimulasi sosial. Anak mampu berbaur namun tidak mampu menjalin relasi yang lebih intens dan dalam.

Apakah anak kita menunjukkan gejala SA ?

Kadang sulit untuk dijawab karena sebagian anak masih bersifat egosentris dalam bersosialisasi serta membicarakan hal-hal yang itu-itu saja seperti mainan atau tokoh kartun favoritnya.Tetapi jika hal-hal tersebut sampai mengganggu sosialisasi dengan teman-temannya , menganggu proses belajar serta anak kita dianggap eksentrik maka sebaiknya berkonsultasi dengan para ahli.

Semoga bermanfaat....

Tetap dapatkan kabar terbaru dari kami!