Cari Blog Ini

Gambar tema oleh MichaelJay. Diberdayakan oleh Blogger.

Featured post

Mengenal Asperger's Syndome

Oleh: Alloysius Hanung Rumekso, Psi. SpN Edu Alif (7 tahun)-bukan nama sebenarnya, tampak sehat dan cerdas masuk ke ruang praktek s...

BLESSKIDS CENTER YOGYAKARTA Love, Touch, Listen, Care, and Grow Together

Ingin mengetahui lebih lanjut tentang kami?

Get in Touch

Treatment


Main Blog
Postingan Terakhir

Jumat, 06 September 2019

Mengenal Asperger's Syndome

Oleh: Alloysius Hanung Rumekso, Psi. SpN Edu


Image result for boy silhouette photo stock free

Alif (7 tahun)-bukan nama sebenarnya, tampak sehat dan cerdas masuk ke ruang praktek saya. Sepintas tidak terlihat berbeda dengan anak kebanyakan. Ia dapat menjawab pertanyaan dengan santun, ”Kabar saya baik, bagaimana dengan kabar mu ?”

Ketika saya bertanya tentang sekolah, tiba-tiba Alif bercerita tentang Dinosaurus yang dikabarkannya telah punah, lengkap dengan cerita bagaimana terjadinya proses kepunahan disertai dengan penemuan terbesar tentang tulang belulang dinosaurus yang belakangan ini ditemukan di florida dan dengan sangat fasih menyebutkan nama latin dan jaman masa kehidupan dinosaurus tersebut dimasa lampau serta mengajak saya berdiskusi tentang kehidupan Dinosaurus, beberapa binatang purba hingga kepuasan dan fosil-fosil yang ditemukan.

Topik pembicaraan tidak juga beralih meskipun saya berusaha mengalihkan pembicaraan dengan pertanyaan ringan seputar teman sekolahnya dan aktifitasnya di sekolah.
Orang tua Alif bercerita bahwa putera mereka mengenal huruf sejak usia 18 bulan dan dapat membaca dengan belajar sendiri sebelum berusia 3,5 tahun. Sejak bisa membaca Alif lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca sains ketimbang bermain bola atau permainan sejenisnya.
Jeniuskah Alif ? Pastinya ya, lalu apa yang salah dengan Alif ?

Menurut orang tua dan gurunya di sekolah ternyata teman-teman Alif tidak suka bermain dengannya karena menganggap Alif aneh. Alih-alih membicarakan film Superman atau tokoh kesukaan anak-anak pada umumnya dengan peers, Alif lebih suka dan tertarik bercerita dan berdiskusi bagaimana habitat dan rantai makanan yang terjadi hutan hujan tropis, atau kehidupan liar di Afrika dan berbagai jenis binatang yang ia minati.

Alif pun sering diejek karena tutur katanya sangat sopan seperti di buku bahasa dengan intonasi yang datar dengan gaya bahasa seperti orang dewasa dan formal. Alif juga kerap balik menirukan pertanyaan yang ditujukan kepadanya saat ia tidak tertarik dengan tematik pembicaraan.

Di mata guru, Alif anak yang sangat cerdas, ”berbeda” dengan anak lain, lebih senang menyendiri dan sibuk dengan buku dan kadang tidak perduli dengan orang lain atau jika diajak bicara. Apa masalah yang terjadi pada Alif ? Autistic ? anak super jenius?…… ternyata bukan, Alif menunjukkan gejala Asperger's Syndrome (sindrom Asperger/SA).

Apa itu Asperger's Syndrome ? Apakah termasuk bagian dari Spektrum Autisme?


Asperger's syndrome (SA) termasuk gangguan perkembangan yang mempengaruhi kemampuan seorang anak untuk bersosialisasi dan berkomunikasi. Anak laki-laki 4:1 lebih banyak dibandingkan dengan anak perempuan.

Adapun tanda dan gejala anak SA antara lain :

        1. Problem sosialisasi :
  •  Anak SA sebenarnya ingin berteman tetapi sering ditolak atau diejek oleh teman-temannya.
  • Kurang atau tidak mengerti bagaimana perasaan orang lain. Dalam hal ini mempunyai 'theory of mind' yang rendah.
  • Tidak mengerti humor dan norma-norma sosial yang berlaku.
  • Menunjukkan perilaku yang khas, tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku.
  • Infleksible atau kurang fleksibel karena lebih suka pada rutinitas sehingga sulit beradaptasi.
  • Rigid dan tampak formal dalam merespon stimulasi sosial.
        2. Problem komunikasi :
  • Dalam percakapan, anak SA akan lebih banyak bicara tentang hal yang diminatinya tanpa memperdulikan apakah lawan bicaranya tertarik atau mengerti apa yang dibicarakan.
  • Tidak memahami atau kesulitan dalam mengerti bahasa komunikasi non verbal seperti ekspresi dan bahasa tubuh orang lain.
  • Kurangnya kontak mata.
  • Terobsesi pada hal-hal yang sangat spesifik seperti statistik, jadwal kereta, cuaca, binatang, dll.
  • Berbicara dengan suara yang monoton, datar, formal dengan kecepatan yang lambat atau cepat. Atau kadang rigid pada infleksi dan nada tertentu.
  • Kurang mampu berkomunikasi dua arah.
  • Kerap menginterupsi atau menyela pembicaraan dan sulit mengikuti tema pembicaraan orang lain.
        3. Problem motorik dan sensorik:
  • Koordinasi motorik halus yang kurang atau clumsy (canggung).
  • Kurang dapat menjaga keseimbangan dan meniru gerakan yang bersifat cepat, halus dan ritmik serta tulisan tangan yang tidak rapi.
  • Sensitif terhadap suara, rabaan, rasa, cahaya, bau, nyeri dan suhu serta tekstur makanan.


Penyebab SA belum banyak diketahui, diduga karena faktor genetik dan kelainan struktural daerah tertentu di otak.

Sebelumnya menurut DSM IV (sebelum tahun 2013) SA dimasukkan kedalam klasifikasi gangguan perkembangan yang kompleks dalam Pervasive Development Disorder, masuk dalam Spectrum Autism sebagai bagian dari High Functioning Autism (Autistik yang mild atau ringan). Namun sejak dikeluarkannya DSM V thn 2013, gangguan perkembangan ini di masukkan klasifikasi tersendiri karena Karakteristik gejalanya yang khas.

Beberapa ahli berpendapat bahwa SA berbeda dengan autistik maupun ASD. Mereka sepakat bahwa perbedaan utama antara SA dengan autistik ataupun ASD adalah anak SA memperlihatkan perkembangan bahasa/bicara serta kecerdasan yang normal sesuai usianya, bahkan kemampuan ini kadang melebihi anak seusianya. Sehingga anak SA tidak datang dengan keluhan terlambat bicara bahkan dengan kecerdasan bahasa yang tinggi tetapi dengan keluhan masalah di sekolah karena kurangnya sosialisasi atau interaksi sosial dalam menjalin hubungan kedekatan yang dalam dan intens dengan teman sebaya dan dianggap aneh oleh lingkungannya. Masalah bahasa dan sosial Interaksi lebih pada sisi kuantitas dan kualitas dalam merespon setiap situasi atau stimulasi sosial. Anak mampu berbaur namun tidak mampu menjalin relasi yang lebih intens dan dalam.

Apakah anak kita menunjukkan gejala SA ?

Kadang sulit untuk dijawab karena sebagian anak masih bersifat egosentris dalam bersosialisasi serta membicarakan hal-hal yang itu-itu saja seperti mainan atau tokoh kartun favoritnya.Tetapi jika hal-hal tersebut sampai mengganggu sosialisasi dengan teman-temannya , menganggu proses belajar serta anak kita dianggap eksentrik maka sebaiknya berkonsultasi dengan para ahli.

Semoga bermanfaat....

Senin, 26 Agustus 2019

Tetap "Sabar" dalam Menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

oleh: Alloysius Hanung Rumekso, Psi. SpN Edu


sumber: istockphoto

Banyak orang mengira dan beranggapan bahwa mengurus atau menghadapi anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. 

Bahkan, orang tua dari anak berkebutuhan khusus sendiri sering kali merasa kuawalahan dan harus berjuang serta berusaha untuk tetap sabar dan bisa menghadapi kondisi anaknya.

Ketika kita berperan sebagai pengasuh Anak Berkebutuhan Khusus, kita tentunya harus menunjukkan komitmen yang besar dan iklhas. Hal ini juga akan dapat memberikan manfaat bagi kita untuk bisa mengubahkan karakter dan emosional kita. Secara emosi dan karakter kita akan ditempa untuk lebih sabar dan lembut dalam menghadapi setiap masalah dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Berikut tips yang dapat kita pelajari bagaimana cara untuk lebih bersabar dalam menghadapi Anak Berkebutuhan Khusus :


1. Berinteraksilah dengan Anak dalam cara yang "Positif".
Image result for special needs child / anak berkebutuhan khusus photo stock
sumber: shutterstock.com

Anak-anak berkebutuhan khusus terkadang kesulitan dalam mengikuti petunjuk dan instruksi dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Untuk itu, jelaskan petunjuk pengerjaan tugas atau aktivitas dengan perlahan dan jelas sesuai dengan karakteristik gangguannya. Instruksi verbal yang berlebihan dan berulang-ulang kadang akan membuat diri kita dan anak berkebutuhan khusus kita makin frustasi.

Kita dapat membantu anak tersebut agar dapat berfokus mengerjakan tugas dengan duduk bersama mereka dan menunjukkan atau menjelaskan petunjuk pengerjaan dengan perlahan dan jelas dengan singkat dan bahasa yang sederhana. Jangan gunakan bahasa yang panjang dan bertele-tele. Jagalah kontak mata dengannya ketika kita menjelaskan petunjuk, serta tunjukkan ekspresi wajah dengan jelas dan tetap tenang/rilex. Jangan bicara terlalu cepat atau terlalu keras padanya. Beberapa Anak Berkebutuhan Khusus juga terkadang kesulitan dalam membaca ekspresi wajah kita, serta petunjuk-petunjuk lisan/verbal atau gesture fisik kita.

instruski aktivitas anak berkebutuhan khusus
sumber: facebook.com/alloysius.rumekso



Kita mungkin perlu menggambarkan petunjuk instruksi atau tugas untuk menunjukkan padanya cara melakukan aktivitas tersebut. Kita dapat melakukannya dengan membuat gambar-gambar sederhana berupa PECS seperti stick figure (gambar orang sederhana dengan bentuk dasar garis), atau gambar bergaya komik-strip dengan figur atau karakter yang lebih mendetail bahkan tulisan (jika anak sudah mampu membaca).

Penggunaan media visual dengan gambar atau tulisan diperlukan untuk pemahaman perintah dan mempertahankan atensinya. Jangan takut gambar kita dianggap jelek atau kita minder karena kita tidak mampu menggambar. Gambar atau media visual akan membantu anak untuk fokus dan memahami perintah secara terstruktur.

Lakukan secara terstruktur dalam bentuk flowcart atau gambar PECS.



flowchart langkah anak berkebutuhan khusus
sumber: facebook.com/alloysius.rumekso


2. Cari tahu dan pelajarilah cara yang lebih disukai anak untuk berkomunikasi dengan kita.

Ada baiknya kita mengamati cara anak tersebut berkomunikasi dengan kita dan orang-orang di sekitarnya. Beberapa anak berkebutuhan khusus mengalami kesulitan untuk mengutarakan ketidaknyamanan atau kebutuhannya dalam kata-kata. Mereka justru menggunakan isyarat fisik, seperti menyentuh lengan, menarik tangan atau melambaikan tangannya sebagai gesture penolakan dan komunikasi lainnya. Beberapa anak juga lebih senang membuat gestur wajah pada kita untuk menunjukkan bahwa mereka membutuhkan sesuatu atau mencoba mencari tahu cara melakukan sesuatu. Menggali informasi dari orang tua akan memperkaya kita dalam memahami isyarat yang ditunjukkan oleh anak, sehingga kita mendapatkan informasi yang tepat untuk mengetahui cara berkomunikasi yang terbaik dengan si anak.

Jangan mendorong, mencubit, memukul (physical abuse) atau berteriak (verbal abuse) pada anak karena bentuk komunikasi tersebut sering kali membuat anak ketakutan dan lebih tertekan. Tindakan agresif pada anak pun perlu dihindari karena biasanya tidak efektif dan akan menyisakan traumatis psikologis.

3. Gunakanlah isyarat suara, visual, dan sentuhan.

Jika kita tidak yakin dengan cara berkomunikasi yang lebih disukai oleh anak, kita dapat mencoba menggunakan isyarat suara, visual, dan sentuhan. Cobalah ulang beberapa kata atau frasa untuk menenangkannya ketika ia mulai gelisah atau mengamuk. Ucapan frasa-frasa tersebut. (mis. “tetap tenang”, "fokus ya...", "pasti bisa",dll). Gunakan nada yang rendah dan tenang serta buat secara berirama agar anak tersebut merasa lebih tenang. Kita juga perlu memberikan pujian dan apresiasi ketika respon mulai dilakukan oleh anak. (Mis. "Yesss bisa...", "good!", "pintar", dll) atau kita mencoba bertepuk tangan, bersiul, dan bersenandung untuk mengapresiasi usahanya.

Kita juga bisa menggunakan isyarat visual untuk menenangkan anak dan mengajarkannya cara berperilaku di tempat umum. Cobalah buat gambar yang menggambarkan perilaku atau sikap tenang, fokus, mendengarkan, atau duduk diam, lalu tunjukkan gambar tersebut padanya untuk mendapatkan perhatiannya. Seiring berjalannya waktu, ia akan memahami bahwa gambar-gambar tertentu memiliki makna tertentu, dari mulai bersikap tenang, diam, pergi ke kamar mandi, sampai bersiap untuk tidur.

Isyarat sentuhan (mis. dengan menyentuh bahu, dagu atau pipi anak) juga dapat menjadi cara yang tepat untuk menarik perhatiannya. Kita juga bisa memberikan objek untuk disentuh atau dipegang oleh anak sebagai cara untuk menenangkannya dan memfokuskan perhatiannya pada aktivitas-aktivitas yang menenangkan. Sebagai contoh, cobalah berikan selimut yang terbuat dari material halus atau mainan lentur dan lembut (mis. boneka, squise, Slime,dll) yang dapat ia mainkan agar ia sibuk mengerjakan sesuatu yang aman dan menyenangkan, namun yang perlu diingat, jangan gunakan materi yang membuatnya stimming karena hal ini akan menimbulkan SSB (Self Stimulation Behavior) - perilaku stimulasi diri yang mencandu.

4. Coba penuhi atau sesuaikan kebutuhan khusus anak, bukan melawan atau menolaknya.

Kita mungkin berusaha keras untuk mengendalikan perilaku anak (terutama di tempat-tempat umum atau terhadap orang lain) dan merasa kesal ketika kita tidak dapat mengendalikannya karena kebutuhan khususnya. Akan tetapi, daripada melawan atau menolak kebutuhan khususnya, cobalah cari cara untuk memenuhi kebutuhan khususnya. Dengan begitu, kita dapat melihat kebutuhan khususnya sebagai tantangan, bukan halangan atau masalah yang perlu diselesaikan.

Sebagai contoh, daripada merasa kesal karena anak dengan sindrom Down / Autisme yang kesulitan untuk berbicara atau mengekspresikan kebutuhannya secara verbal, cobalah cari cara lain untuk membantunya berkomunikasi. Kita dapat memotret langkah demi langkah cara berpakaian atau mandi yang benar. Kemudian tunjukkan foto-foto tersebut dalam bentuk squence seriation (berurutan) agar ia memahami cara berpakaian atau cara mandi dengan benar. Urutan Foto dapat ditempelkan dikamar mandi setelah dilakukan pemahaman secara konsisten. 

Kita juga dapat mengulangi frasa-frasa tertentu secara konsisten agar ia bisa mendengar dan mengingat frasa-frasa tersebut. Sebagai contoh, cobalah katakan "minta/mau", "terima kasih",“Selamat pagi” dll. Secara konsisten anak akan terpola dan menggunakannya sesuai frase dan kondisi yang kita ajarkan.


5. Gunakan Reinforcement atau Pujilah dan rayakan pencapaian yang ia tunjukkan, meskipun kecil.
image result for happy child reinforcement photostock
sumber: shuttersstock.com
Berfokuslah pada aspek-aspek positif anak dengan mengenali dan mengakui pencapaiannya, meskipun pencapaiannya terbilang kecil atau tidak signifikan. Sebagai contoh, pencapaian tersebut dapat berupa momen ketika anak berhasil mengucapkan kata atau kalimat pertamanya secara lengkap atau ketika ia berhasil memahami permintaan atau perintah orang lain di tempat atau lingkungan yang baru dan menantang. Tunjukkan padanya bahwa kita menghargai usahanya melalui gestur wajah atau ekspresi dan bahasa yang positif.
flowchart langkah anak berkebutuhan khusus
sumber: facebook.com/alloysius.rumekso


Kita dapat menghargai anak dengan memberikannya hadiah atau makanan kecil, atau membawanya jalan-jalan atau main dalam permainan yang menyenangkan. Ini dapat membantu membangun kepercayaan dirinya dan mengingatkan kita akan banyaknya aspek positif yang didapatkan dari pola asuh kita pada anak berkebutuhan khusus.

Semoga bermanfaat🙏🙏🙏

Minggu, 11 Agustus 2019

Berpergian Aman Nyaman bersama Anak Berkebutuhan Khusus Menggunakan Pesawat Terbang

Photography, Photo, stock, Getty Images, aviation, airline, airplane, plane, flight, transporation, airport msnbc
sumber: getty images stock
Bagi sebagian orang, kebiasaan mudik sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Meski mendatangkan sedikit merepotkan namun keinginan untuk bersilaturahmi mengalahkan segalanya. Semoga bisa bermanfaat.

Bagi orangtua yang memiliki anak autistik, perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang menjadi PR tersendiri yang tampak rumit. Namun sebenarnya tidaklah seperti yang kita bayangkan jika kita mampu mempersiapkan dan sedikit belajar untuk melakukan Discrete Trial Training (DTT)-nya secara konsisten dan terstruktur.


Perjalanan mudik bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), khususnya Autistik akan lancar bila kita tahu kiat-kiatnya. Mudik aman, si kecil pun akan nyaman. Melengkapi informasi gambar yang diposting oleh Ibu Rosita Simin melalui Facebook tanggal 23 april 2019, saya mencoba membantu menambahkan dan menguraikan lewat tulisan singkat ini sebagai tips singkat yang mudah dipahami. 



Berikut tipsnya buat orang tua Autistik saat melakukan perjalanan menggunakan pesawat:

1. Persiapkan anak melalui pemahaman konsep jauh-jauh hari sebelum pemberangkatan mudik. Persiapan pemahaman konsep dapat berupa sosial story melalui sequence (urutan gambar dan simbol). Gunakan juga bantuan visual berupa foto tentang alur perjalanan dan kondisi/situasi dibandara atau didalam pesat.


2. Ajarkan ekspektasi perilaku selama dibandara atau dalam perjalanan di dalam pesawat melalui sosial rule. Apa yang bisa dilakukan dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan menggunakan struktur visual PECS atau compic yang mudah dipahami.



3. Pilihlah jadwal penerbangan yang mendekati waktu tidur anak, agar saat pesawat akan lepas landas anak sudah mulai mengantuk.



4. Persiapkan materi benda atau mainan kesukaan anak, agar di dalam pesawat anak asik memainkan benda tersebut sebagai pengalihan distraksi.



5. Usahakan sebelum pemberangkatan atau naik pesawat anak sudah mendapatkan asupan makanan, sehingga di dalam pesawat anak tidak rewel atau marah karena lapar.


6. Gunakan earplug atau headset (untuk mendengarkan musik kesukaannya) saat akan tinggal landas untuk mengurangi distraksi suara mesin pesat yang asing dan mengganggu.

7. Bila anak masih di bawah tiga tahun, peluk anak saat take off.

8. Peluk atau rangkul anak ketika anak mengalami meltdown (merasa tidak nyaman).

9. Usahakan sebelum naik pesawat periksa diapers anak, agar anak merasa nyaman, atau usahakan buang air terlebih dahulu sebelum naik pesawat.

10. Ketika naik pesawat usahakan yang terakhir, sehingga anak tidak menunggu lama di dalam pesawat, dan mengurangi mengantri saat di dalam pesawat.

11. Persiapkan makanan kecil atau minuman kesukaan si anak, untuk bisa mengalihkan perhatiannya.

12. Apabila anak panik atau menangis, sebagai orangtua jangan ikut terpancing panik dan jangan banyak bersuara, karena hanya akan menambah kepanikan dan pusing bagi anak. Tetaplah tenang, memeluk atau merangkul anak, atau berikan sentuhan fisik berupa elusan atau sesuatu yang menenangkan.

Kamis, 25 Juli 2019

Menangani Anak Berkebutuhan Khusus di Rumah

oleh: Alloysius Hanung Rumekso, Psi, SpN Edu


Bagaimanapun hebatnya seorang therapist atau sebuah tempat therapy, guru terbaik adalah orang tuanya. Orang tua (tentunya tidak harus ibu) akan melakukan apapun demi kebaikan anaknya, tanpa pamrih, dan tidak mengenal kata “percuma”.
Apalagi, dari waktu yang dilewatkan bersama dalam quality time, hubungan kedekatan antara orang tua dan anak akan otomatis terbentuk. Kuantitas bonding menentukan kualitas. Tidak ada kualitas terbentuk tanpa kuantitas yang disiapkan.
Demikian juga meskipun semakin intensif semakin baik, intervensi ini tidak harus dalam bentuk penanganan yang terus menerus setiap hari (karena banyak orang tua harus bekerja). Setidaknya ada usaha dari orang tua dan keluarga untuk terus menerus melakukan pendampingan pada anaknya sehingga mereka terlibat secara langsung dalam proses pengajaran anak. Keterlibatan langsung ini SANGAT berpengaruh pada perkembangan anak secara mental dan emosional.

Jadi hal apa yang harus diperhatikan dalam membantu menangani anak di rumah ? Apalagi kondisi saat liburan seperti saat ini....

Menurut Hodgdon, 1999, fokus kita adalah pada :

  • Meningkatkan pemahaman dan mengajarkan ketrampilan baru. Jadi, tujuan utama penanganan adalah pada pemahaman BUKAN bicara atau hanya pengungkapan secara verbal saja.
  • Orang tua HARUS dibantu mengerti bahwa sebagian populasi Autism memang tidak bisa verbal, tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi pemahaman mereka. Seringkali orang tua kecil hati dan putus asa karena anaknya tidak bisa verbal (yang berhubungan dengan daerah gangguan perkembangan wicara), padahal anak sudah sangat membaik perkembangannnya. Orang tua perlu melihat setiap sisi positif perkembangan anak, agar orang tua bisa menghargai detiap perubahan yang terjadi sehingga bersikap lebih positif pula. Kesadaran bahwa sebagian populasi autism memang non-verbal menekankan, agar orang tua dapat beralih kepada alat bantu komunikasi yang bisa dipelajari. Tujuan kita adalah memberi anak stimulasi dan kemudahan untuk mengekspresikan diri melalui berbagai cara, sehingga anak tidak frustrasi, dan bisa berperilaku lebih positif. 
  • Salah satu cara yang dapat dilakukan orang tua di rumah dengan segera adalah dengan PENDAMPINGAN INTENSIF. Pendampingan yang dimaksud disini bukanlah menemani, tetapi memastikan adanya interaksi aktif antara anak dengan pengasuh/orang tua yang ada di sekitarnya. Tujuan pendampingan intensif bukan saja untuk membina kontak batin terus menerus dengannya (bukan sekedar kontak mata), tetapi juga untuk meningkatkan PEMAHAMAN anak yang umumnya cenderung terbatas termasuk kontak dengan lingkungan sosialnya. 
  • Pendampingan ini dilaksanakan sejak anak mulai membuka mata, hingga saatnya ia tertidur kembali di malam hari. Saat pendampingan intensif, tugas siapapun yang menemani anak untuk memberikan informasi dan pengalaman dalam berbagai bentuk kepada anak. Penting sekali untuk TIDAK membiarkan anak sendirian tanpa melakukan apa-apa. Berikan pengalaman sebanyak mungkin, disertai pengarahan. Anak harus tahu, bahwa dunia ini sarat dengan makna dan simbol yang bisa dikomunikasikan. Dengan mengikuti kemana ia pergi, memberi tahu apa yang ia pegang atau lihat, menjelaskan berbagai kejadian yang ia alami, kita memberi makna pada hidupnya. Lebih penting lagi, berikan kesempatan pada anak untuk melakukan berbagai hal. Mungkin pada awalnya dibantu tetapi sambil mengajarkan cara mengerjakannya sendiri. Jangan layani ia setiap saat, karena anak akan cenderung belajar untuk tidak berdaya bila terus menerus dibantu. 

Holmes (1997) menggunakan istilah "learned helplessness" (atau ketidakberdayaan yang dipelajari) untuk melukiskan situasi dimana penyandang autism cenderung belajar menjadi 'tidak berdaya' sambil tetap mendapatkan apa yang mereka inginkan. (Dalam hal ini kita mengenal makna 'Manipulate Behavior' atau perilaku manipulasi). Keadaan 'tidak berdaya' juga merupakan kondisi yang menyenangkan bagi anak autism karena ia lalu punya kesempatan untuk kembali 'masuk' ke dalam dunianya -- terbebas dari rasa frustrasi, cemas, dan tertekan saat harus susah payah melalui proses belajar hal baru.

Sebaliknya, keadaan 'tidak berdaya' ini merampas seorang penyandang dari hak-haknya untuk hidup mandiri, untuk menentukan sendiri apa yang ingin ia lakukan dan bagaimana melakukannya.

Keadaan tersebut juga seolah mengizinkan mereka untuk berperilaku tidak semestinya, karena mereka tidak diajarkan untuk bertanggung jawab atas perilakunya sendiri. Singkatnya, ‘learned helplessness’ menghambat seorang anak autistik mendapatkan hak akan kehidupan yang layak di kemudian hari.

Pertanyaan orang tua berikutnya adalah:
apa yang akan diajarkan? 

Penting sekali untuk berusaha meningkatkan pemahaman anak dalam berbagai bidang: kemampuan berpikir, kemandirian mengurus diri sendiri, ketrampilan sosial, agar setidaknya mendekati kemampuan anak lain seusianya. Untuk itu harus ditetapkan target ketrampilan.

Lalu bagaimana menetapkannya?

Baker & Brightman (1997) dalam bukunya Steps to Independence menganjurkan kita:
  • Melakukan observasi cara anak melewatkan hari-harinya,
  • Mencatat berbagai hal yang sekarang kita lakukan untuknya, dan kita pikir sudah dapat mulai ia pelajari sendiri (misal: mengikat tali sepatu, membuka baju, mencuci rambut, membereskan mainan, makan, toileting dsb). Mungkin juga bisa ditambahkan ketrampilan baru (bermain dengan aturan main) atau tugas lain yang kita pikir sudah dapat dipelajari olehnya. 
  • Menyadari bahwa dari sekian banyak hal yang kita pikir sudah dapat ia pelajari, ada hal yang harus sudah ia kuasai sebelum ia dapat belajar hal tertentu lainnya (prasyarat : setelah melewati mastery criteria ). Seperti: duduk sebelum berdiri, makan dengan garpu sebelum memotong dengan pisau dsb. Jadi, pertimbangkan apa yang sudah dapat ia lakukan, dan apa yang dapat diajarkan sesudah itu. Lakukan secara bertahap dalam DTT (Discrete Trial Training). 
  • Menetapkan prioritas. Pilih, hal apa yang paling berarti bagi sekelilingnya bila dapat dikerjakan anak sendiri. Misal: anak tidak bisa makan sendiri berakibat tidak mungkin pergi makan bersama-sama, anak tidak bisa pakai baju sendiri berarti ibu tidak bisa meluangkan waktu bersama anak lain di pagi hari karena sibuk membantu anak berpakaian. 
  • Melakukan pergerakan dalam langkah-langkah yang kecil, untuk mengupayakan 75%- 80% kemungkinan keberhasilan pada anak. Minta orang tua melakukan analisa tugas (task analysis) dimana kita membagi sebuah tugas dalam langkah kecil untuk diajarkan secara terpisah dan tersendiri. Misalnya: untuk tugas mandi, langkah-langkah yang tercakup adalah masuk kamar mandi, tutup pintu, buka pakaian, siram badan, pakai sabun, siram badan, keringkan badan dengan handuk, berpakaian, barulah keluar kamar mandi. 
  • Bila salah satu langkah belum dikuasainya, harus diajarkan tersendiri (MT/Mass Trial). Selain ketrampilan/pengetahuan, penyandang ASD penting sekali untuk diajarkan KEPATUHAN. Mereka yang cenderung “semau-nya sendiri”, cenderung mengalami masalah di lingkungan masyarakat, bila tidak sejak dini dibantu untuk patuh. Tanamkan pengertian bahwa “hidup ini sarat dengan aturan, dan kamu harus belajar untuk mematuhi sebagian besar aturan tersebut”. Bagaimanapun pandainya seseorang, bila ia tidak dapat mengikuti aturan yang berlaku.. ia akan dikatakan “tidak tahu aturan” dan seringkali ditolak oleh lingkungannya. Karena itu, orang tua harus mengingatkan anak untuk mengajarkan aturan-aturan sederhana sedini mungkin. Misalnya: tidak boleh lempar-lempar barang, tidak boleh makan sambil berlari-lari, harus mau membereskan barang dsb. Konsistensi disiplin orang tua adalah kunci utama adanya kepatuhan pada anak. Yang jelas, program yang dibicarakan disini adalah perluasan dari apa yang diajarkan orang tua saat penanganan anak di rumah. Perluasan disini maksudnya adalah memasukkan berbagai konsep. 
  • Mencatat berbagai hal yang sekarang ANDA lakukan untuknya, dan Anda pikir sudah dapat mulai ia pelajari sendiri (misal: mengikat tali sepatu, membuka baju, mencuci rambut, membereskan mainan, makan, toileting dsb). 
Lakukan evaluasi dan berikan rewards atas keberhasilan dan respon positif yang dilakukan anak. Gunakan insentif sistem atau token ekonomi berdasarkan minat dan hal-hal yang ingin dicapai oleh anak. Banyak buku yang dapat dijadikan panduan saat menetapkan program/materi yang akan diajarkan. Buku yang direkomendasikan untuk penanganan awal adalah manual yang disusun oleh seorang ibu dengan dua anak penyandang autisme yakni Catherine Maurice dan A Work in Progress (Mc Leaf, 1999) yang sarat dengan ide dan bahan untuk diajarkan pada penyandang autisme. Selain itu, bisa juga menggunakan Hanen Program (Sussman, 1999) yang menggunakan banyak gambar dan contoh konkrit sehari-hari dalam membantu penyandang autisme belajar berkomunikasi.


Selamat mencoba. Semoga bermanfaat....

Hubungi Kami


BLESSKIDS CENTER YOGYAKARTA
Jl. Playen-Banyusoco, RT.20/RW.04
Bleberan, Bleberan, Playen, Gunungkidul, Yogyakarta

0878-9955-1652
0812-1594-3959
blesskids.yk@gmail.com

Tetap dapatkan kabar terbaru dari kami!